Jumat, 18 November 2016

Keretakan Pada Beton

Jenis Retak Pada Beton
Retak dapat secara luas diklasifikasikan sebagai retak struktural maupun non – struktural. Retak struktural dapat terjadi karena adanya kesalahan desain atau juga bisa terjadi karena beban yang melebihi kapasitas sehingga dapat membahayakan bangunan. Retak yang ekstensif/menyebar dari balok beton bertulang adalah salah satu contoh retak struktural. Retak non – struktural sebagian besar terjadi karena adanya tegangan yang diinduksi secara internal dalam material bangunan dan umumnya hal ini tidak langsung mengakibatkan melemahnya struktur.
Menurut Ghafur (2009), retak dapat dikenali dengan tiga parameter yaitu lebarnya, panjangnya dan pola umumnya, lebar retak ini sulit diukur karena bentuknya yang tidak teratur (irregular shape). Pada fase pengerasan beton terdapat retak mikro, retak ini sulit dideteksi karena terlalu kecil.
Jenis-Jenis Retak
1. Retak Plastis Akibat Penyusutan
Retak ini terjadi dalam waktu 1 sampai 8 jam setelah penempatan campuran beton, ketika beton dengan sangat cepat mengalami kehilangan air yang disebabkan beberapa faktor meliputi udara, suhu beton, kelembapan, dan kecepatan angin di permukaan beton. Ketika air menguap dari permukaan beton yang baru saja ditempatkan lebih cepat daripada bleed water, permukaan beton akan menyusut. Beton yang tidak mengalami bleeding akan menyusut karena tahanan yang diberikan oleh beton dibawah lapisan permukaan yang mengering. Tegangan – tegangan tarik berkembang di beton yang lemah mengakibatkan terjadinya retak-retak dangkal dengan berbagai kedalaman yang dapat membentuk retak yang acak, bentuk polygon (RDSO, 2004).
2. Retak Plastis Akibat Penurunan
Setelah pengecoran, penggetaran, dan sampai beton selesai dicor, beton yang memiliki kecenderungan untuk terus mampat. Selama periode ini, beton plastis mungkin ditahan oleh tulangan, beton keras yang ditempatkan lebih dahulu, atau bekisting. Perletakan setempat ini dapat menyebabkan rongga di bawah tulangan dan retak di atas tulangan. Ketika berhubungan dengan tulangan, retak plastis akibat penurunan meningkat seiring dengan meningkatnya diameter tulangan, meningkatnya nilai slump, dan berkurangnya selimut beton (Dakhil, et al., 1975).
3. Drying Shrinkage Cracking
Susut akibat pengeringan disebabkan dari kehilangan kadar air dari campuran semen, yang dapat menyusut hingga 1%. Untungnya, partikel agregat memberikan tahanan internal yang mereduksi besarnya perubahan volume sekitar 0.06%. Pada sisi lain, beton cenderung mengembang ketika dibasahi (peningkatan volume bisa sebanding dengan besarnya penyusutan beton). Perubahan volume akibat perubahan kadar air ini adalah karakteristik dari beton. Kalau susut pada beton dapat terjadi tanpa batasan, beton tidak akan retak. Akibat kombinasi dari susut dan batasan (diberikan oleh bagian lain dari struktur, dari tanah dasar, atau dari kelembapan interior beton itu sendiri) yang menyebabkan berkembangnya tegangan-tegangan tarik. Ketika batasan tegangan tarik dari material sudah dilewati, beton akan retak
4. Concrete Crazing
Crazing adalah pengembangan jaringan retak acak halus atau celah pada permukaan beton yang disebabkan oleh penyusutan lapisan permukaan. Retak ini jarang lebih dalam dari 3mm, dan lebih terlihat pada permukaan yang tergenang secara berlebihan. Umumnya, retak craze berkembang pada usia dini dan terlihat jelas sehari setelah penempatan atau setidaknya pada akhir hari pertama. Seringkali mereka tidak mudah terlihat sampai permukaan telah dibasahi dan mulai kering. Mereka tidak mempengaruhi integritas struktural beton dan jarang mereka mempengaruhi daya tahan. Namun permukaan craze tak sedap di pandang (RDSO, 2004).
5. Thermal Cracking Perbedaan suhu dalam struktur beton dapat disebabkan oleh bagian dari struktur kehilangan panas hidrasi pada tingkat yang berbeda, kondisi cuaca yang dingin, panas dari suatu bagian struktur yang berubah. Perbedaan suhu ini menghasilkan perubahan volume yang berbeda-beda, yang menyebabkan retak. Perubahan suhu mungkin disebabkan oleh salah satu pusat beton lebih panas dari bagian luar karena pembebasan panas selama hidrasi semen atau pendinginan yang lebih cepat yang relatif antara eksterior ke interior. Kedua kasus mengakibatkan tegangan tarik pada eksterior dan, jika kekuatan tarik terlampaui, retak akan terjadi
6. Cracking due to Chemical Reaction Reaksi kimia yang merusak dapat menyebabkan retak pada beton. Reaksi ini mungkin terjadi karena bahan yang digunakan untuk membuat beton atau material lain yang bertemu dengan beton setelah beton kering. Beton dapat pecah seiring dengan waktu akibat reaksi ekspansif yang berkembang secara perlahan antara agregat yang mengandung silika aktif dan basa yang berasal dari hidrasi semen, admixture atau sumber eksternal (misalnya air curing, air tanah, dan alkaline yang ditaruh atau digunakan pada pada permukaan beton yang sudah kering)
Sumber:
https://centraljogja.wordpress.com/tag/jenis-retak-pada-beton/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar